Wednesday, June 8, 2022

 

3.3.a.6 Refleksi Terbimbing Modul 3.3 Pengelolaan Program yang

Berdampak Pada Murid 

Oleh

Tri Andari Setyaningrum_CGP Angkatan 4_SMA Negeri 7 Surakarta

 

Tujuan Pembelajaran Khusus:

1. CGP dapat melakukan refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah mereka lalui.

2. CGP menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang diampunya.  Anda telah sampai pada fase refleksi terbimbing.

1.      Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Hal yang menarik bagi saya setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah saya mendapatkan gambaran bagaimana pemanfaatan sumber daya asset  yang dimiliki sekolah sehingga dapat diidentifikasi dan dijadikan sebagai program sekolah yang berdampak pada murid tentang prioritas kebutuhan sekolah, , lebih memahami bentuk-bentuk program sekolah, tahapan pengelolaan program yang efektif dan berdampak secara langsung bagi murid serta mengevaluasi praktik yang selama ini dijalankan disekolah dengan menggunakan strategi Monitoring, Evaluasi, Learning dan Reporting (MELR) dan mengidentifikasi manajemen risiko dari sebuah program yang akan dirancang maupun yang sudah dirancang dan menjadi program sekolah yang berlangsung selama ini. Guru dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajaran mereka sendiri, maka guru dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan perannya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinan mereka dapat berkembang dengan baik

Program yang dirancang pihak sekolah atau guru harus benar-benar melibatkan murid dalam hal voice(suara) tentang cara memberdayakan murid agar mempunyai kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.,choise(pilihan) yaitu jika guru menginginkan murid mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka guru harus memberikan murid  kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar, serta ownership(kepemilikikan) yakni ketika murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, dan sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi. Pentingnya mempertimbangkan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Program sekolah diharapkan memberikan dampak yang positif bagi murid,guru dan sekolah menuju sebuah perubahan yaitu budaya positif di sekolah dan sekaligus secara bersamaan guru dapat membangun karakter murid yang:

1.               beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia

2.              berkebinekaan global.

3.              mampu bergotong royong.

4.               mandiri

5.              berpikir kritis

6.              kreatif

Hal lain yang menarik bagi saya adalah peran sebuah komunitas sangat penting dalam membangun sebuah program yang berdampak bagi murid.Dimulai dari komunitas keluarga,komunitas kelas dan antar kelas,komunitas sekolah,komunitas sekitar sekolah,serta komunitas yang lebih luas. Kesemua komunitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi proses pembelajaran murid. Komunitas-komunitas tersebut merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah, termasuk dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu dengan bersama-sama ikut mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, kepemilikan’ dalam berbagai peran yang mereka mainkan dan interaksi mereka dengan murid.

 

2.     Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Hal yang membuat saya terkejut yang saya temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang program yang berdampak pada pak pada murid yaitu kegiatan pembelajaran yang berdampak bagi murid ternya guru hanya bertugas sebagai pendamping dan koordinator kegiatan, guru memberikan murid memiliki hak penuh dalam membuat sebuah program,melaksanakan program serta melakukan evaluasi dan refleksi. Tugas guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan program mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan dari apa sudah mereka lakukan. Bentuk-bentuk program yang berdampak pada murid tidak terlepas dari program dengan menggunakan tahapan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mipmpi, Jabarkan Rencana dan Atur Eksekusi), Cara memonitor dan mengevaluasi program yang sudah dibuat dengan mempertimbangkan manajemen risiko.Bentuk pelaporan dengan menggunakan strategi MELR: Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting (Monitoring, Evaluasi Pembelajaran, Laporan)

3.     Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

 Perubahan yang akan saya lakukan setelah memahami dan mempelajari materi di modul 3.3. ini yaitu:

ü  Membuat program sekolah yang berdampak pada murid dengan memberdayakan 7 aset sekolah yang ada.

ü  Merancang program dengan menggunakan tahapan BAGJA,

ü  Melakukan Monitoring dan mengevaluasi program yang sudah dibuat berdasarkan 12 prinsip dasar Monitoring Evaluasi

ü  Menyusun pelaporan dengan menggunakan strategi MELR: Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting (Monitoring, Evaluasi Pembelajaran, dan Laporan).

ü  Menerapkan manajemen Risiko dari setiap program yang akan dilaksanakan di sekolah

ü  Mengatur ulang dan mengevaluasi praktik program yang selama ini dilaksanakan disekolah dengan menerapkan materi yang telah dipelajari dimodul 3.3 ini.

4.     Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Keterbatasan waktu untuk mendalami materi yang berkaitan dengan program atau kegiatan yang berdampak bagi murid.Materi ini sangat penting untuk menumbuhkan sebuah tanggungjawab,kedisiplinan serta keaktifkan murid dalam kegiatan kelas atau sekolah.Membutuhkan waktu dan pemikiran yang kreatif, inovatif dan improvisasi untuk mengembangkan sebuah program kelas/sekolah yang memang benr-benar berdampak pada murid. Dengan mengajak serta melibatkan seluruh komunitas sekolah terlibat dalam kegiatan program sekolah masih menjadi tantangan tersendiri bagi saya,karena tidak semua guru,masyarakat sekitar memiliki rasa kepedulian dalam mengembangkan:

a.              Program sekolah khususnya yang berdampak bagi murid dimana peran komunitas masih sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran program sekolah.

b.             Mengidentifikasi asset yang dimiliki sekolah yang akan dijadikan sebagai sumber pengembangan program sekolah.Membutuhkan kerja sama semua pihak untuk bersama-sama dalam memanfaatkan aset yang dimiliki oleh pihak sekolah.

c.              Kegiatan berkelanjutan dari sebuah program.Biasanya program sekolah hanya bertahan beberapa tahun atau tidak mengalami perkembangan yang signifikan dan terkadang belum dapat dirasakan oleh murid secra maksimal.             

 

5.     Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

  • Dukungan dimulai dari diri saya sendiri yang memiliki tekat yang kuat,rasa tanggungjawab serta kreatif untuk melakukan sebuah perubahan yang positif dalam hal pengelolaan sumber daya atau aset sekolah untuk kemajuan pendidikan khususnya di sekolah saya.
  • Dukungan dari kepala sekolah,rekan guru,tenaga kependidikan untuk andil dalam pelaksanaan program sekolah
  • Murid yang aktif dan mandiri juga membantu saya dalam melaksanakan kegiatan kelas/sekolah
  • Lingkungan sekolah yang aman,nyaman akan membantu dalam melaksanakan program sekolah
  • Peran tokoh agama serta budaya di lingkungan sekitar sekolah yang bersedia untuk berkolaborasi dengan pihak sekolah,akan membantu saya dan rekan guru dalam melaksanakan kegiatan sekolah
  • Dukungan finansial dari anggaran BOS maupun dari pihak komite sekolah yang akan membantu dalam hal keuangan.Karena semua kegiatan pasti membutuhkan dana untuk kelancaran kegiatan

Demikian refleksi terbimbing yang sudah saya buat tentang Pengelolaan Program yang berdampak pada Murid.Semoga dengan mempelajari dan memahami modul ini,saya bisa segera melaksanakan program sekolah serta melakukan pengimbasan kepada rekan guru di sekolah saya agar tercipta pembelajaran di sekolah yang berpihak pada murid.

 

 

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-23

 

Modul 3.3. Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

Oleh

Tri Andari Setyaningrum_CGP Angkatan 4_SMA N 7 Surakarta

 

 

 Jurnal refleksi minggu ke 23 penulis sebagai CGP sudah masuk pada Pengelolaan Program yang berdampak pada murid dan di minggu ini penulis akan merefleksi menggunakan Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Berikut adalah deskripsi jurnal refleksi minggu 23 menerapkan model 4C:

 

1. Connection

Sebagai seorang Calon guru penggerak memiliki beberapa peran  diantaranya :

 1) menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya;

2) Mengimbaskan kepada rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di  

     sekolah;

3) Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah;

4) Membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan     

    di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; dan

5) Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di

     sekolah. Kesemua peran tersebut sangat memiliki korelasi dengan dengan modul 3.3.

     pengelolaan program yang berdampak pada murid.

 

Menurut saya materi ini erat kaitannya dengan peran utama saya sebagai Calon Guru Penggerak, yaitu mewujudkan merdeka belajar dengan keputusan-keputusan dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid, sehingga tercipta murid yang memiliki profil pelajar Pancasila dengan mengaitkan Voice, Choice dan Ownership bagi murid.

 

 

2. Challenge

Sebelum saya mempelajari materi tentang Pengelolaan Program yang berdampak pada murid atau kegiatan yang sudah berjalan namun masih lemah dalam mendorong kepemimpinan murid. Suara, pilihan dan kepemilikan murid masih minim saya dorong. Sehingga kepemimpinan murid belum optimal dikembangkan. Pada minggu ini kami masuk dalam ruang kolaborasi 3.3.a.5 untuk berkelompok membuat sebuah program yang bisa disampaikan ke sekolah masing – masing dengan mengaitkanintrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Kami bebas memilih program apa yang akan kami usulkan di sekolah.

 

 

3.Concept

 

Murid harus menjadi dasar bagi semua pengambilan keputusan yang kita buat di sekolah. Dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Kita harus menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Dan secara voice dimana murid berhak bersuara menentukan program apa dan bagaimana yang akan dipilih, kemudian choice dimana murid dapat memilih program apa dan bagaimana pelaksanaannya serta ownership dimana murid diharapkan merasa memiliki sehingga dapat melaksanakan program dengan senang hati dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.

 

4. Change

Setelah saya mempelajari modul ini, murid harus menjadi dasar bagi semua pengambilan keputusan yang saya buat di sekolah. Dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, saya harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat saya merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Saya harus memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik, dengan cara mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. Serta mengurangi kontrol saya terhadap mereka. Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas saya sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.

 

 

Saturday, June 4, 2022

 

Jurnal Refleksi Minggu ke 22 : Kepemimpinan Pengelolaan Sumber Daya

Oleh

Tri Andari Setyaningrum – CGP Angkatan 4 – SMA Negeri 7 Surakarta

 

 

Pada minggu ini adalah minggu ke-22 yang merupakan minggu akhir dalam mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam kesempatan kali ini, saya akan memaparkan Jurnal Refleksi Minggu ke-22 Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 4. Model yang digunakan dalam penulisan jurnal kali ini adalah model ke 7 yaitu Segitiga Refleksi.

Segitiga puncak, segitiga hijau (kemampuan setelah belajar) : Setelah pembelajaran minggu ini, akhirnya saya mampu mengidentifikasi aset/kekuatan yang ada didaerah dan sekolah dengan memetakan segala sumber daya yang ada serta mengidentifikasi strategi pemanfaatannya secara efektif. Selain itu pembelajaran minggu ini mampu mengubah pola pikir saya dari pendekatan berbasis kekurangan/masalah menjadi pola pikir pendekatan berbasis aset/kekuatan.



 

 



Segitiga bawah kiri, segitiga kuning (yang dipahami setelah belajar) : Saya akhirnya memahami bahwa Sekolah sebagai sebuah ekosistem yang terdiri atas unsur biotik dan abiotik. Unsur biotik diantaranya Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua, Masyarakat sekitar sekolah sedangkan unsur abiotik diantaranya Sarana dan prasarana maupun Keuangan sekolah. Dalam pengelolaan sekolah ada 2 pendekatan yaitu pendekatan berbasis aset/kekuatan dan pendekatan berbasis masalah/kekurangan. Penerapan pendekatan berbasis aset akan memungkinkan sekolah untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki untuk mewujudkan pendidikan ke arah yang lebih baik. Adapun 7 aset / modal utama sumber daya yang ada di sekolah diantaranya Modal Manusia, Modal Sosial, Modal Fisik, Modal Lingkungan/Alam, Modal Finansial, Modal Politik, Modal Agama dan Budaya.

Segitiga bawah kanan, segitiga merah (perasaan setelah belajar): Saya merasa semakin antusias, termotivasi dan merasa makin tertantang untuk mempelajari lebih mendalam tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, sehingga nantinya dapat diterapkan secara konsisten khususnya dalam pengelolaan pembelajaran di kelas/sekolah. Selain itu yang semula saya focus dengan kelemahan dan kekurangan dari asset yang kami miliki mulai saya merubah paradigma mendapatkan dan berpikir tentang kekuatan dari asset yang kami miliki di sekolah.

Segitiga tengah, segitiga biru (target setelah belajar) : Setelah melakukan pembelajaran minggu ini, target saya berikutnya adalah menerapkan ilmu yang diperoleh untuk dapat mengidentifikasi dan memetakan aset/kekuatan yang ada di daerah dan di sekolah serta memanfaatkan 7 aset tersebut untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

Tuesday, May 17, 2022

 

Jurnal Refleksi Minggu Ke 20 - Modul 3.2.a.10.1

Tri Andari Setyaningrum

CGP Angkatan 4_SMA Negeri 7 Surakarta

 

Pada jurnal refleksi minggu ke-20 saya mencoba menyusun dengan model 4F. 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal) : Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan.

1.    Facts (Peristiwa)

Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

·      Murid

·      Kepala Sekolah

·      Guru

·      Staf/Tenaga Kependidikan

·      Pengawas Sekolah

·      Orang Tua

·      Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya:
·      Keuangan

·      Sarana dan prasarana

 

Seorang kepala sekolah berperan sebagai educator (pendidik),sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai administrator, sebagai supervisor, sebagai pencipta iklim kerja, sebagai wirausahaan. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah sebagai pemimpin ekosistem sekolah adalah mampu memotivasi, mengelola, memanage, dan memahami karakter setiap warga sekolah sehingga mampu memberdayakan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah.

 

2.    Feelings (Perasaan)

Pada minggu ini saya mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yang merupakan modul terakhir Pendidikan Guru Penggerak. Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan .

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:

1.   Modal Manusia

·   Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.

2.   Modal Sosial

·    Norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan ( networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.

3.   Modal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses  pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.

 

4.   Modal Lingkungan/alam

Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup.  Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.

Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya.

5.   Modal Finansial

   Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.

    Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.

6.   Modal Politik

   Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.

    Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

7.   Modal Agama dan budaya

  Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.

   Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.

    Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik.  Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.

3. Findings (Pembelajaran)

Di dalam modul ini saya mempelajari bagaimana cara pandang kita mengelelola sebuah sumbedaya dan mengambil sebuah tindakan. Dua pendekatan dalam mengelola sebuah aset adalah Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking).

Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan

Berbasis pada aset

Fokus pada masalah dan isu

Fokus pada aset dan kekuatan

Berkutat pada masalah utama

Membayangkan masa depan

Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan-selalu bertanya apa yang kurang?

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

(Green & Haines, 2010)

4. Future (Penerapan)

Dalam mengelola sebuah sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah, cara yang paling tepat digunakan adalah dengan Pendekatan Berbasis Aset atau kekuatan. Melalui pendekatan ini, menuntun kita untuk fokus pada kekuatan yang dimiliki untuk selalu mencari dan menemukan gagasan yang efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.

 

 

          Kode Modul Ajar   ING.E.10.1.5 Nama Penyusun/Institusi/Tahun   Tri Andari Setyan...